TEORI
PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
A. TEORI PENGOLAHAN INFORMASI
Penelitian
pengolahan informasi menitik beratkan usahanya pada pelacakan dan pemberian
urutan operasi pikiran dan hasilnya, yang berupa informasi dalam pelaksanaan
tugas kognitif tertentu (Anderson, 1980, hlm.13). Bidang lain yang termasuk
dalam psikologi kognitif ialah sub ranah bahasa perumpamaan, memori, persepsi,
intelegensi buatan, dan perkembangan kognitif. Istilah
“pengolahan Informasi” mengandung pengertian adanya pandangan tertentu kearah
studi individu. Pusat perhatiannya adalah cara bagaimana orang mempersepsi,
mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima setiap
hari dari lingkungan sekeliling. Teori pengolahan informasi
berbeda dengan teori belajar yang khas dalam tiga hal :
1. Tidak
bercirikan karya satu orang teoritikus saja atau suatu rancangan penelitian
tertentu.
2. Adanya
perpecahan pandangan filosofis dalam bidang kognitif.
3. Derajat
penekanannya pada soal belajar.
B. ASUMSI DASAR PENGOLAHAN INFORMASI
Asumsi pokok
yang mendasari teori-teori pengolahan informasi menyebutkan hakikat sistem
memori pada manusia dan representasi pengetahuan didalam memori. Penerapan
dikelas atas penerapan teori ini adalah berasal dari asumsi bahwa memori
manusia itu suatu sistem yang aktif, yang menyeleksi, mengorganisasi dan
mengubah menjadi sandi informasi dan keterampilan bagi penyimpanannya untuk
dipelajari. Dengan demikian asumsi utama yang para ahli teori kognitif
bersepakat bahwa belajar yang berhasil tergantung lebih pada tindakan si
belajar ketimbang pada hal-hal yang ada di lingkungan.
Model belajar
pemrosesan informasi ini
sering pula disebut
model kognitif information
processing, karena dalam proses belajar
ini tersedia tiga
taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1.
Sensory
atau intake register:
informasi masuk ke
sistem melalui sensory register, tetapi
hanya disimpan untuk
periode waktu terbatas.
Agar tetap dalam sistem,
informasi masuk ke
working memory yang
digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.
Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan
di sini berlangsung
berpikir yang sadar.
Kelemahan working memory sangat
terbatas kapasitas isinya
dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3.
Long-term
memory, yang secara
potensial tidak terbatas
kapasitas isinya sehingga mampu
menampung seluruh informasi yang sudah
dimiliki peserta didik.
Kelemahannya adalah betapa
sulit mengakses informasi
yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan, ketika
individu belajar, di
dalam dirinya berlangsung
proses kendali atau pemantau bekerjanya
sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam
long-term memory (materi
memory atau ingatan) dan strategi
umum pemecahan masalah (materi kreativitas). Pengetahuan
yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka
panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam
pemrosesan informasi dalam memori kerja
berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman
berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus
adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi,
teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi
tentang bagaimana informasi
diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari memori
kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan
pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain
pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian,
pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian
informasi bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan
makna yang dilekatkan pada stimulus
elemen-elemen pesan tersebut.
Dalam
mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang
disebut dengan media pengantar, desain pesan,
serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang
dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan
atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang
digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu
pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai
contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat
dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar
komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau
kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya
istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi
dari sebuah pola tanda yang memungkinkan
untuk mengkondisi pemerolehan informasi.
Penelitian telah menemukan bukti bahwa
desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas
performansi.
Beberapa teori
yang melandasi perancangan desain pesan
multimedia instruksional ialah teori
pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori
pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk
informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja
visual dan memori kerja auditori. Teori
muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang
terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian
informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang
diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam
representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan).
Temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda
(dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang
independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan
pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja
tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk.
Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan
bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya
menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan
multimedia.
Teori
belajar yang oleh Gagne (1988) disebut dengan ‘Information Processing Learning
Theory’. Teori ini merupakan gambaran
atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu
informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga ‘Information-Processing
Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan Informasi’. Menurut Gagne bahwa
dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah
sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan
informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan
kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri
individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Menurut Gagne
tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase, yaitu:
(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik.
Menurut Robert S. Siegler ada
tiga karakteristik utama pendekatan pemrosesan informasi, yaitu :
1. Proses Berpikir (Thinking)
Menurut pendapat Siegler
(2002), berpikir (thinking) adalah pemrosesan informasi. Dalam
hal ini Siegler memberikan perspektif luas tentang apa itu penyandian (encoding),
merepre-sentasikan, dan menyimpan informasi dari dunia sekelilingnya, mereka
sedang melakukan proses berpikir. Siegler percaya bahwa pikiran adalah sesuatu
yang sangat fleksibel, yang menyebabkan individu bisa beradaptasi dan
menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan, tugas, dan tujuan. Tetapi,
ada batas kemampuan berpikir manusia ini. Individu hanya dapat memerhatikan
sejumlah informasi yang terbatas pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses
informasi juga terbatas.
2. Mekanisme Pengubah (Change
Mechanism)
Siegler (2002)
berpendapat bahwa dalam pemrosesan informasi fokus utamanya adalah
pada peran mekanisme pengubah dan perkembangan. Dia percaya bahwa ada empat
mekanisme yang bekerja sama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif
anak: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan
generalisasi.
a. Encoding (penyandian)
Encoding adalah proses memasukkan
informasi ke dalam memori . Seperti halnya teori Gagne yang menyatakan
informasi dipilih secara selektif, maka dalam encoding menyandikan informasi
yang relevan dengan mengabaikan informasi yang tidak relevan adalah aspek utama
dalam problem solving. Namun, anak membutuhkan waktu dan usaha untuk
melatih encoding ini, agar dapat menyandi secara otomatis.
Ada enam konsep yang dikenal dalam
encoding, yaitu :
1). Atensi
Atensi adalah mengonsentrasikan dan
memfokuskan sumber daya mental. Salah satu keahlian penting dalam memerhatikan
adalah seleksi. Atensi bersifat selektif karena sumber daya otak terbatas
(Mangels, Piction, & Craik, 2001).
2).
Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) adalah
repitisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada di
dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid perlu
menyandikan dan mengingat daftar item untuk periode waktu yang singkat.
3).
Pemrosesan mendalam
Setelah diketahui bahwa
pengulangan (rehearsal) bukan cara yang efisien untuk
menye-diakan informasi untuk memori jangka panjang (Fergus Craik dan Robert
Lockhart 1972) menyatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai
level.
4)
Elaborasi
Elaborasi adalah ekstensivitas
pemrosesan memori dalam penyandian. Jadi saat anda menyajikan konsep demokrasi
kepada murid, mereka kemungkinan mengingatnya dengan lebih baik jika mereka
diberi contoh lebih bagus dari demokrasi. Mencari contoh adalah cara yang bagus
utuk mengelaborasi informasi. Misalnya, referensi diri (self-reference) adalah
cara yang efektif untuk mngelaborasi informasi.
5). Mengkonstruksi citra (imaji)
Ketika kita mengkonstruksi citra
dari sesuatu, kita sedang mengelaborasi informasi. Allan Paivio (1971, 1986)
percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara: sebagai kode verbal
atau sebagi kode citra/imaji. Paivio mengatakan bahwa semakin detail dan unik
dari suatu kode citra, maka semakin baik memori anda dalam mengigat informasi
itu. Para peneliti telah menemukan bahwa mengajak anak untuk menggunakan imaji
guna mengingat informasi verbal adalah cara yang baik bagi anak yang lebih tua
ketimbang anak yang lebih muda (Schneider & pressley, 1997).
6). Penataan
Apabila murid menata
(mengorganisasikan) informasi ketika mereka menyediakanya, maka memori mereka
akan banyak terbantu. Semakin tertata imformasi yang disampaikan, semakin mudah
untuk mengingatnya. Ini terutama berlaku jika menata imformasi secara hirarkis
atau menjelaskannya. Chunking (“pengemasan”) adalah strategi
penataan memori yang baik, yakni dapat mengelompokan atau “mengepak” informasi
menjadi unit-unit “higherorder” yang dapat diingat sebagai satu tunggal. Chunking dilakukan
dengan membuat sejumlah besar informasi menjadi lebih mudah dikelola dan lebih
bermakna.
b. Otomatisasi
Otomatisasi adalah kemampuan untuk
memproses informasi dengan sedikit atau tanpa usaha . Peristiwa ini
terjadi karena pertambahan usia dan pengalaman individu sehingga
otomatis dalam memproses informasi, yaitu cepat dalam mendeteksi kaitan atau
hubungan dari peristiwa-peristiwa yang baru dengan peristiwa yang sudah
tersimpan pada memori dan akhirnya akan menemukan ide atau pengetahuan baru
dari setiap kejadian.
c. Konstruksi
Strategi
Konstruksi strategi adalah penemuan
prosedur baru untuk memproses informasi. Dalam hal ini Siegler menyatakan bahwa
anak perlu menyandikan informasi kunci untuk suatu problem dan
mengkoordinasikan informasi tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang relevan
untuk memecahkan masalah.
d. Generalisasi
Untuk melengkapi mekanisme pengubah,
maka manfaat dari langkah ketiga yaitu konstruksi strategi akan terlihat pada
proses generalisasi, yaitu kemampuan anak dalam mengaplikasikan konstruksi
strategi pada permasalahan lain. Pengaplikasian itu melalui proses transfer,
yaitu suatu proses pada saat anak mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan
sebelumnya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi yang baru.
3. Modifikasi
Diri
Modifikasi diri dalam pemrosesan
informasi secara mendalam tertuang dalam metakognisi, yang berarti kognisi atau
kognisi atau mengetahui tentang mengetahui, yang di dalamnya
terdapat dua hal yaitu pengetahuan kognitif dengan aktivitas kognitif.
Pengetahuan kognitif melibatkan
usaha monitoring dan refleksi pada pemikiran seseorang pada saat sekarang,
sedangkan aktivitas kognitif terjadi saat murid secara sadar menyesuaikan dan
mengelola strategi pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan
suatu tujuan.
Berkaitan dengan modifikasi diri
Deanna Kuhn mengatakan metakognisi harus lebih difokuskan pada usaha untuk
membantu anak menjadi pemikir yang lebih kritis, terutama di sekolah menengah.
Baginya ketrampilan kognitif terbagi dua, yaitu mengutamakan
kemampuan murid untuk mengenali dunia, dan ketrampilan untuk mengetahui
pengetahuannya sendiri.
Michael Pressly dan rekan
- rekannya seperti yang telah dikutip Santrock, mereka
telah mengembangkan model metakognitf yang disebut model pemrosesan informasi
yang baik. Model ini menyatakan bahwa kognisi yang kompeten adalah hasil dari
sejumlah faktor yang saling berinteraksi.
Sumber :
sedikit menambahkan
BalasHapusMenurut Mayer dan Moreno (2010), teori kognitif pembelajaran yang disajikan pada Gambar 1 didasarkan pada teori beban kognitif dengan fokus mengurangi beban kognitif siswa. Teori beban kognitif memuat tiga jenis pengolahan kognitif selama belajar, yaitu:
1. Beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load) merupakan beban pikiran dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten.
2. Beban kognitif germane (germane cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh tuntutan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
3. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
terimakasih atas tambahannya
HapusMenurut Chipperfield Teori Beban Kognisi didasarkan pada prinsip-prinsip kognisi sebagai berikut: (1) memori jangka pendek (memori kerja) berkapasitas terbatas yakni mampu mengolah hingga tujuh unit informasi, (2) memori jangka paanjang berkapasitas tak terbatas dan merupakan tempat penyimpanan semua informasi maupun pengetahuan, (3) pengetahuan disimpan dalam memori jangka panjang sebagai skema atau skemata, (4) skema, betapapun besar atau kompleks, berujud sebagai tunggal dalam memori kerja, (5) skema dapat menjadi reflek atau terotomatis. Otomatisasi skema merupakan tujuan dari proses belajar, semakin ahli seorang siswa maka skema yang dimilikinya menjadi semakin reflek dan otimatis.
BalasHapusImplikasi dari cognitive load theory dalam mendesain metode pembelajaran yaitu.
1.Perlu memahami tingkat kekompleksan materi yang akan dipelajari atau banyaknya informasi yang akan disampaikan;
2.Perlu mengetahui tingkat pengetahuan awal siswa yang akan mempelajari materi yang disampaikan;
3.Meminimalkan jumlah dari intrinsic cognitive load dan ekstrinsik;
4.Memfasilitasi proses yang meningkatkan germane cognitive load yaitu akuisisi dan konstruksi skema pengetahuan; dan
5.Membangun susunan skema yang baik dan memfasilitasi automatisasi skema.
Coba anda sebutkan bagaimana cara-cara agar pemrosesan informasi dapat berjalan baik?
BalasHapus1. Perencanaan
Hapusorang bijak mengatakan untuk mencapai seribu langkah harus dimulai dengan satu langkah. Demikian juga dengan membangun sistem informasi, langkah pertama kita adalah membuat perencanaan(planning).
Perencanaan adalah membuat semua rencana yang berkaitan dengan proyek sistem informasi. kalau kita ingin membangun rumah maka kita akan melakukan perencanaan bagaimana pondasinya , bagaimana struktur bangunannya, mau memakai material apa saja, apa warna dindingnya, tak ketinggalakan pula merencanakan anggaran budget yang harus kita keluarkan.
2. Analisa
Setelah perencanaan selesai, langkah berikutnya adalah membuat analisa (analyst). Analisa adalah menganalisa workflow sistem informasi yang sedang berjalan dan mengindentifikasi apakah workflow telah efisien dan sesuai standar tertentu.
Analisa dilakukan oleh Business Processs Analyst (BPA) yang berpengalaman dan/atau memahami workflow sistem manajemen di area yang sedang dianalisa.
3. Desain
Setelah proses analisa selesai, selanjutnya adalah membuat desain (desgin). Desain adalah langkah yang sangat penting dalam siklus SDLC karena langkah ini menentukan fondasi sistem informasi. kesalahan dalam desain dapat menimbulkan hambatan bahkan kegagalan proyek.
Ada 2 jenis desain yang dibuat di langkah ini, yaitu desain proses bisnis dan desain pemrograman.
a. Desain Proses Bisnis
b. Desain Pemrograman
Desain pemrograman dilakukan oleh Sistem Analis (SA) yaitu membuat desain yang diperlukan untuk pemrograman berdasarkan desain proses bisnis yang telah dibuat oleh BPA. desain ini akan menjadi pedoman bagi programmer untuk menulis source code. Desain pemrograman meliputi :
1). Desain database
2). Desain Screen Layout
3). Desain Diagram Proses
4). Desain Report Layout
4. Pengembangan
Pekerjaan yang dilakukan di tahap pengembangan (development) adalah pemrograman. Pemrograman adalah pekerjaan menulis program komputer dengan bahasa pemrograman berdasarkan algoritma dan logika tertentu. orangnya disebut Programmer.
5. Testing
Tak ada gading yang tak retak, sebuah peribahasa yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini.Hal ini berlaku juga pada sistem informasi buatan manusia. oleh sebab itu, perlu suatu proses untuk menguji mutu sistem informasi . proses ini lazim disebut testing.
Testing adalah proses yang dibuat sedemikian rupa untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian hasil sebuah sistem informasi dengan hasil yang diharapkan.
6. Implementasi
Implementasi adalah proses untuk menerapkan sistem informasi yang telah dibangun agar user menggunakannya menggantikan sistem informasi yang lama.
Proses Implementasi :
a. Memberitahu user
b. Melatih user
c. Memasang sistem (install system)
d. Entri/Konversi data
e. Siapkan user ID
7. Pengoperasian dan Pemeliharaan
Langkah Paling akhir adalah pengoperasian dan pemeliharaan. selama sistem informasi beroperasi, terdapat beberapa pekerjaa rutin yang perlu dilakukan terhadap sistem informasi, antara lain :
a. System Maintenance
b. Backup & Recovery
c. Data Archive
Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
BalasHapusbisakah ada menjelaskan tentang strategi yang dimaksud??
Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi (Pranata, 2004). Beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan (periksa Gambar 2). Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
HapusApa yang menyebabkan suatu informasi tidak dapat masuk dalam memori jangka panjang?
BalasHapusAda faktor-faktor yang ternyata dapat mempengaruhi daya kerja ingatan, antara lain :
HapusFaktor usia, ingatan paling tajam pada diri manusia kurang-lebih pada masa kanak-kanak (10-14 tahun) dan ini berlaku untuk ingatan yang bersifat mekanis yakni ingatan untuk kesan-kesan penginderaan. Sesudah usia tersebut kemampuan untuk mencamkan dalam ingatan juga dapat dipertinggi akan tetapi untuk kesan-kesan yang mengandung pengertian (daya ingatan logis) dan ini berlangsung antara usia 15-50 tahun.
Kondisi fisik, misalnya kelelahan, sakit dan kurang tidur dapat menurunkan daya kerja atau prestasi ingatan.
Faktor emosi. Dalam hal ini seseorang akan mengingat sesuatu lebih baik, apabila peristiwa-peristiwa itu menyentuh perasaan-perasaan, sedangkan kejadian yang tidak menyentuh emosi seringkali diabaikan.
Minat dan Motivasi. Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering mengamati remaja yang tidak lupa suatu lirik lagu walaupun dalam bahasa asing. Orang-orang yang sering bepergian, mempunyai ingatan tentang ilmu bumi yang jauh lebih baik daripada yang tidak pernah kemana-mana. Artinya disini seseorang yang mengingat segala sesuatu tentang hal yang disukainya jauh lebih baik dari pada hal yang tidak disukainya. Jelaslah minat sangat meningkatkan motivasi dan pada gilirannya akan meningkatkan daya ingat. Menurut Kurt Lewin (1890-1947), seorang psikolog jerman, minat dan motivasi berarti konsentrasi energi (forces) pada sektor (region) tertentu dalam kesadaran. Konsentrasi energi inilah yang menyebabkan suatu hal tidak begitu saja dilupakan.
bagaimana cara mengolah informasi yang kita dapat agar dapat masuk kedalam memori jangka panjang?
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan wahyuni :
BalasHapusmeomori pada jangka pendek dapat masuk ke memori jangka panjang dengan cara mengulang2 apa yang ada dimemori jangka pendek jika itu dalam bentuk tuindakan, membaca kembali apa yg ada dimemorui jangka pendek jika itu dalam bentuk tulisan, dan mengingat2 kembail apa yg ada di memori jangka pendek dengan stimulus dan rangsangan2 yang sesuai.
terimakasih atas jawabannya
HapusMenurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah. Tolong jelaskan maksudnya!
BalasHapusbisakah anda memberikan contoh kondisi internal dan kondisi eksternal yang mendukung sehingga pengolahan informasi dapat berjalan dengan semestinya?
BalasHapusjelaskan teori pemrosesan ganda.
BalasHapusManfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
BalasHapus1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2.Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3.Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4.Prinsip perbedaan individual terlayani.
Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1.Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2.Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
4.Kemampuan otak tiap individu tidak sama
terimakasih atas tambahannya
HapusMenurut Gagne tahapan proses pembelajaran ada delapan fase, fase manakah yang paling sulit untuk diterapkan ?
BalasHapussedikit menambahkan,Robert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya : The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa ; Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja Dan Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi)
BalasHapusGagne membuat rumusan yang berisi urutan untuk menimbulkan peristiwa pembelajaran, yaitu :
a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c. Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d. Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e. Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f. Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g. Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h. Mengevaluasi hasil belajar, dan
i. Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Gagne membuat 7 macam pengelompokan media, yaitu :
Benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar.
Gagne merumuskan “ The domains of Learning “, yaitu :
Kemampuan belajar manusia yang terbagi kepada lima kategori :
a. Motor/skill : ketramppilan motorik.
b. Informasi verbal : dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar.
c. Kemampuan intelektual, yaitu kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan dunia luar yang berkaitan dengan symbol-simbol.
d. Strategi kognitif : organisasi keterampilan yang internal.
e. Sikap.
Gagne membuat rumusan tahapan dalam tujuan dan tingkatan belajar :
Tahapan tujuan belajar diawali dari yang mudah (rendah), sedang, ke sulit (tinggi), dan tahapan ini berbanding lurus dengan tahapan proses belajar, yaitu dari yang paling sederhana ke yang kompleks. Adapun tingkatan belajar ada empat : belajar fakta, belajar konsep, belajar prinsip, dan pemecahan masalah (Harjanto, 2000 : 159).
terimakasih atas tambahannya
Hapusmenurut anda media seperti apakah yang dapat mengembangkan ketiga bagian memori jangka panjang?
BalasHapus