PENGEMBANGAN
E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Menurut Depdiknas (2008), bahan ajar dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik materi yang akan disajikan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penggunaan alat bantu media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif seperti penggunaan komputer atau internet. Penggunaan internet dalam proses pembelajaran dikenal dengan istilah e-learning. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001).
Kemajuan dan kehadiran teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) dewasa ini memberi-kan peluang dan sekaligus
tantangan bagi dunia pendidikan. Salah satu peluang dan tantangan ini berupa
pemanfaatan TIK untuk mendukung proses belajar mengajar. Peluang yang dimak-sud
adalah adanya kemungkinan meningkatkan hasil belajar dengan memanfaatkan TIK.
Ada-pun tantangannya adalah tuntutan kemauan dan kemampuan untuk memanfaatkan
TIK guna meningkatkan hasil belajar. Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran
menuntut dukungan kebi-jakan institusi, sarana dan prasarana, perangkat
hardware dan software, serta brainware, yakni sumber daya manusia (SDM) yang
memiliki kemampuan mengelola dan menggunakan TIK.
Salah satu bentuk pemantaatan TIK
dalam pembelajaran adalah e-learning. Istilah e-learn-ing dalam beberapa tahun
terakhir ini merupakan istilah yang popluer di kalangan dunia pen-didikan,
khususnya di perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi bahkan menjadikan
e-learning sebagai nilai tambah yang menjadi kebanggaan untuk menarik calon
mahasiswa. Seo-lah keberadaan e-learning di sebuah perguruan tinggi menjadi
indikator bahwa pergururan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi “modern”
dengan fasilitas dan infrastruktur TIK yang membanggakan. Terlebih lagi dengan
keberadaan sistem-sistem informasi online lainnya seperti sistem informasi
akademik, sistem administrasi online, perpustakaan online (e-library), dan
lain-lain.
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat berpotensi un-tuk mendukung
revolusi pembelajaran, dengan enam dimensi kunci (JISC, 2004: 7):
(1)
Konektivitas:
akses informasi secara global;
(2)
Fleksibilitas:
belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja;
(3) Interaktivitas:
interaksi antara pelajar dan materi pelajaran serta lingkungan belajar mau-pun
sumber belajar dapat dilakukan seketika dan secara langsung;
(4) Kolaborasi:
penggunaan fasilitas komunikasi dan diskusi online mendukung pem-belajaran
kolaboratif di luar kelas;
(5) Memperluas
kesempatan: materi e-learning dapat memperkaya dan memperluas materi
pembelajaran tatap muka; dan
(6) Motivasi:
pemakaian multimedia dapat membuat suasana belajar menyenangkan.
Selain
itu, seperti disebutkan di dalam buku panduan “Effective Practice with
e-Learning” oleh The Joint Information Systems Committee (JISC) Inggris,
terdapat beberapa keuntungan TIK bagi para praktisi di dalam melacak dan
memantau kemajuan belajar siswa. Salah satu bentuk pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran adalah e-learning.
Menurut Depdiknas (2008), bahan ajar dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik materi yang akan disajikan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penggunaan alat bantu media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif seperti penggunaan komputer atau internet. Penggunaan internet dalam proses pembelajaran dikenal dengan istilah e-learning. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001).
Bahan ajar yang tersedia di
sekolah biasanya hanya berupa buku teks. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah dan Atas (2010), bahan ajar adalah segala bentuk bahan berupa
seperangkat materi yang disusun secara sistematis untuk membantu
guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memungkinkan siswa
untuk belajar. E-learning membuat pembelajaran dapat lebih terbuka dan
fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa
saja. Salah satu media yang dikembangkan untuk menunjang pembelajaran secara
online adalah program LMS (Learning Management System). Menurut Yasar dan
Adiguzel (2010), Learning Management System (LMS) adalah suatu pengelolaan
pembelajaran yang mempunyai fungsi untuk memberikan sebuah materi belajar,
mendukung kolaborasi, menilai kinerja peserta didik, merekam data peserta
didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk memaksimalkan efektifitas
dari sebuah pembelajaran. Selain materi ajar, skenario pembelajaran perlu
disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik secara
aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka (Hasbullah, 2009).
1. Konsep Pembelajaran E-Learning
E-Learning
adalah proses pembelajaran yang menggunakan komputer, jaringan, perangkat lunak
pengajaran yang dilengkapi dengan fasilitas komunikasi, pemantauan dan
evaluasi. E-learning
itu dapat diartikan sebagai suatu sistem dalam pembelajaran yang mengacu pada
penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan dengan karakteristik-karakteristik seperti memanfaatkan jasa
teknologi, memanfatkan keunggulan komputer, menggunakan bahan ajar yang
bersifat mandiri, dan memanfaatkan jadwal belajar yang dapat dilihat pada
komputer, serta memberikan fasilitas yang dapat diakses oleh pengajar dan
peserta didik/mahasiswa secara pribadi.
2. Karakteristik E-Learning
E-learning
ini sendiri mempunyai beberapa karakteristik seperti yang telah dikemukakan
oleh Suyanto (2005) mengemukakan 4 karakteristik e-learning yang terdiri dari:
a.
Memanfaatkan jasa teknologi elektronik,
dimana pengajar dan peserta didik, peserta didik dan peserta didik, ataupun
pengajar dan sesama pengajar dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa
dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.
b.
Memanfaatkan keunggulan komputer (media
digital dan jaringan komputer).
c.
Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri
yang dapat disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa
kapan saja dan dimana saja bila yang bersangkutan membutuhkannya.
d.
Memanfaatkan jadwal pembelajaran,
kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi
pendidikan yang dapat dilihat setiap saat di komputer.
3. Komponen E-Learning
a. Infrastruktur
E-Learning
Infrastruktur
e-learning merupakan peralatan yang digunakan dalam e-learning yang dapat
berupa Personal Computer ((PC), yakni komputer yang dimiliki secara pribadi),
jaringan komputer (yakni, kumpulan dari sejumlah perangkat berupa komputer,
hub, switch, router, atau perangkat jaringan lainnya yang terhubung dengan
menggunakan media komunikasi tertentu), internet (merupakan singkatan dari
Interconnection Networking yang diartikan sebagai komputer-komputer yang
terhubung di seluruh dunia) dan perlengkapan multimedia (alat-alat media yang
menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis,
gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi). Termasuk di
dalamnya peralatan teleconference (pertemuan jarak jauh antara beberapa orang
yang fisiknya berada pada lokasi yang berbeda secara geografis) apabila kita
memberikan layanan synchronous learning yakni proses pembelajaran terjadi pada
saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid sedang belajar melalui
teleconference.
b. Sistem
Dan Aplikasi E-Learning
Sistem
dan aplikasi e-learning yang sering disebut dengan Learning Management System
(LMS), yang merupakan sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses
belajar mengajar konvensional untuk administrasi, dokumentasi, laporan suatu
program pelatihan, ruangan kelas dan peristiwa online, program e-learning, dan
konten pelatihan), misalnya, segala fitur yang berhubungan dengan manajemen
proses belajar mengajar seperti bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi
atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), serta sistem ujian online
yang semuanya terakses dengan internet.
c. Konten E-Learning
Konten
e-learning merupakan konten dan bahan ajar yang ada pada e-learning sistem
(Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk
misalnya Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif
seperti multimedia pembelajaran yang memungkinkan kita menggunakan mouse,
keyboard untuk mengoperasikannya) atau Text-based Content (konten berbentuk
teks seperti pada buku pelajaran yang ada di wikipedia.org, ilmukomputer.com,
dsb.). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan
oleh peserta didik kapan pun dan dimana pun.
4. Syarat
E-Learning
ü Kegiatan
pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan dalam hal ini internet.
ü Tersedianya
dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya
CD-ROM atau bahan cetak
ü Tersedianya
dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami
kesulitan
ü Adanya
lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning
ü Adanya
sikap positif pendidik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan
internet
ü Adanya
rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap
peserta belajar
ü Adanya
sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar
ü Adanya
mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara
5. Manfaat
E-Learning
a.
Meningkatkan kadar interaksi
pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance
interactivity).
Apabila
dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar
interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur,
antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar
(enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat
konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Mengapa? Karena
pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang
disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat
terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh
beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini
tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun
yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan
pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau
mendapat tekanan dari teman sekelas.
b.
Memungkinkan terjadinya interaksi
pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
Mengingat
sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses
oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi
dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan
tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu
selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan
guru/instruktur. Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan
konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan
internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas
Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah
dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk
kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik”.
c.
Menjangkau peserta didik dalam cakupan
yang luas (potential to reach a global audience).
Dengan
fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau
melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang
dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja,
dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar
dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi
siapa saja yang membutuhkan. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi
pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak
yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar
elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar
sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara
periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi
pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari
peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku penanggung-jawab
atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.
6. Model
E-Learning
a. Selective
Model Jika jumlah komputer sangat terbatas, ia dapat ditunjukkan kepada siswa
sebagai bahan demontrasi saja. Jika ada beberapa komputer, siswa diberi peluang
untuk mendapat sedikit pengalaman ‘hands-on’.
b. Sequential
Model Jika jumlah komputer sedikit, siswa dalam kelompok kecil bergerak dari
satu set sumber informasi ke sumber yang lain. Bahan ‘e-learning’ digunakan
sebagai bahan rujukan atau bahan informasi baru. Jika terdapat beberapa
komputer, siswa diberi peluang untuk mendapatkan pengalaman ‘hands-on’.
c. Static
Station Model Jika jumlah komputer sedikit, Guru mempunyai beberapa sumber
berbeda untuk mencapai objektif pembelajaran yang sama. Bahan ‘e-learning’
digunakan oleh beberapa kelompok siswa manakala siswa lain menggunakan sumber
yang lain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama.
d. Laboratory
Model Jika jumlah komputer mencukupi untuk semua siswa, maka bahan ‘e-learning’
dapat digunakan oleh semua siswa sebagai bahan pembelajaran mandiri. Model ini
boleh digunakan jika sekolah mempunyai perangkat komputer yang dilengkapi dengan
jaringan internet.
7. Metode
Penyampaian E-Learning
a. Synchronous
Learning
Pada
pembelajaran synchronous kondisinya mirip dengan pembelajaran konvensional
hanya saja pada e-learning hal ini tidak ditandai dengan kehadiran secara
fisik. Pada bentuk synchronous ini pendidik (instruktur), peserta didik dan
rekan-rekannya melakukan “pertemuan” secara online di internet. Melakukan
proses belajar mengajar seolah sedang berada pada ruang fisik yang sama.
b. Self-Directed
Learning
Pada
kategori ini peserta didik melakukan pembelajaran secara mandiri dengan
mengakses berbagai referensi dan bahan belajar yang disediakan. Tidak ada
instruktur ataupun waktu khusus untuk berdiskusi dengan sesama peserta didik.
Masing-masing peserta didik melakukan proses belajar sesuai dengan
kebutuhannya.
c. Asynchronous
(Collaborative) Learning
Kategori
ini mengkombinasikan karakteristik dari kedua kategori sebelumnya. Peserta
didik belajar secara mandiri namun tetap berkomunikasi dengan peserta didik
lainnya maupun dengan pendidik walaupun tidak harus di waktu khusus.
8. Konsep
Pembuatan E-Learning
a. Langkah
Awal
Memahami seperti apa
calon user. Lalu menyesuaikan teknologi yang di gunakan oleh calon user sebelum
membangun user sebelum membangun software. Tujuan e-learning ini harus sudah disampaikan
kepada user sejak awal.
b. Mengatur
Konten
Navigasi adalah hal
penting lain dalam penyusunan E-Learning, tombol-tombol navigasi harus
memudahkan user saat berinteraksi, dengan fungsi yang jelas dan tidak
membingungkan.
c. Storyboard
Storyboard adalah
sketsa sederhana yang dapat digunakan sebagai outline. Lakukan hal ini sebelum
memulai desain pada komputer.
d. Menggabungkan
Elemen Multimedia.
Menggabungkan berbagai
format multimedia untuk program E-Learning. Digunakan untuk menanamkan
informasi kepada user.
e. Teks
Teks adalah elemen
penting dalam E-Learning. Dalam program e-learning terdiri atas membaca teks
dan mengklik layar tombol navigasi untuk berpindah ke teks berikutnya. Kalau
bisa 6 baris per halaman.
f. Audio
Gabungan teks dan audio
memiliki pengaruh yang besar pada saraf otak untuk memproses informasi.
g. Video
Dalam bentuk video
berguna untuk menjelaskan suatu subjek dalam konteks kegunaan. Pastikan materi
video sudah mengandung informasi yang di butuhkan untuk menjawab pertanyaan.
h. Animasi
Penggunaan animasi
mulai dari hal sederhana seperti perubahan warna/bentuk tombol saat mouse
berada diatasnya (rollover) sampai lingkungan 3D yang berubahn sesuai gerakan mouse.
i.
Kuis/Test
Kuis dapat digunakan
untuk mengukur sejauh mana kemajuan user selama mengikuti pelatihan
j.
Feedback
Feedback bertujuan
untuk mengoreksi hal yang salah satu atau meluruskan permasalahan.
9. Kelebihan
Dan Kekurangan E-Learning
Kelebihan:
·
Dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja
·
Kuota tidak terbatas
·
Kemudahan mendapatkan materi dan info
·
Materi yang didapatkan lebih banyak
·
Pembelajaran lebih efektif dan efisien waktu
·
Suatu solusi yang ditawarkan dari
E-learning adalah fleksibel dalam proses pembelajaran. Tidak harus di kelas,
dapat pula diterapkan dalam cara pembelajaran jarak jauh (distance learning)
yang dapat memanfaatkan teknologi internet dan computer. Memungkinkan lebih banyak pembelajar
yang mengikuti proses pembelajaran E-learning ini karena dapat diakses dimana saja
dan oleh siapa saja.
·
Jika kita menggunakan system pembelajaran
berbasis E-learning, maka kita akan mudah untuk mendapatkan informasi dan materi.
Kemudahan tersebut terletak pada saat mencari materi atau info yang hanya tinggal
ketik dan menunggu sebentar, langsung materi bisa didapat. Memungkinkan menfaat banyak materi baik dari
dalam maupun luar negeri. Ini tentunya dapat menambah wawasan bagi kita dan
juga bisa meningkatkan hasil belajar kita.
Kekurangan:
·
Kurangnya dalam pemantauan.
·
Saat menggunakan pembelajaran berbasis
E-learning, terdapat kekurangan yang tampak pada pantauan dalam suasana belajar.
Ini dikarenakan system mobile yang diterapkan E-learning yang menyebabkan guru
tidak dapat memantau secara langsung pembelajaran terhadap siswanya.
·
Perangkat E-learning. Dalam pembelajaran
E-learning, diwajibkan memiliki perangkat yang membantu terwujudnya pembelajaran
E-learning seperti computer, jaringan internet, bila perangkat ini tidak ada,
maka pembelajaran E-learning tidak dapat berlangsung
·
Cenderung mengurangi aspek social
·
Dengan sering menghadapi computer tanpa berinteraksi
secara langsung, menjadikan siswa kurang melakukan sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Ini merupakan suatu kekurangan yang dapat berpengaruh dalam keseharian.
Sumber:
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas. Direktorat
Hartley, Darin E. 2001. Selling E-Learning. American Society for Training and Development.
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas. Direktorat
Hartley, Darin E. 2001. Selling E-Learning. American Society for Training and Development.
Hasbullah.
2009. Pengembangan Model Pembelajaran E-Learning Untuk Meningkatkan Kualitas
Proses dan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Energi dan Konversi. Jurnal Penelitian, (Online), 10 (2):
25-30, (http://jurnal.upi.edu/file/Hasbullah.pdf), diakses 12 Februari 2012.
https://www.scribd.com/document/326527592/Konsep-Pengolahan-Informasi-Pembelajaran
http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikelB222663265A80590716499B3118E7E43.pdf
http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikelB222663265A80590716499B3118E7E43.pdf
Ada 4 model dalam E-learning dari 4 tersebut yang mana yang lebih efektif ?
BalasHapusmenurut saya, Sequential Model lebih efektif dimana siswa dibagi dalam kelompok kecil sehingga pada keadaan komputer hanya ada sedikit siswa masih bisa mempraktekkan sendiri baiik sebagai guru maupun sebagai siswa dalam e-learning tersebut dan pada model ini, kerja siswa lebih sistematis dan terarah
Hapusbagaimanakah kriteria elearning yang baik sebagai media pembelajaran?
BalasHapusRosenberg mengkategorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam E-Learning, yaitu:
HapusE-Learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangatlah penting dalam E-Learning, sehingga Rosenberg menyebutnya sebagai persyaratan absolut.
E-Learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD-ROOM, Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital personal lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa digolongkan sebagai E-Learning.
E-Learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang mengungguli paradigma tradisional dalam pelatihan (Suyanto : 2005).
Saat ini E-Learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training).
E-Learning merupakan metode pembelajaran yang berfungsi sebagai pelengkap metode pembelajaran konvensional dan memberikan lebih banyak pengalaman afektif bagi pelajar. Singkatnya, E-Learning menggunakan teknologi untuk mendukung proses belajar. Inti dari E-Learning ialah metode dimana peserta didik diposisikan sebagai prioritas utama dengan meletakan semua sumber bahan ajar di genggamannya. Peserta didik akan dapat mengatur durasi mata kuliah dalam mempelajarinya dan akan mampu menyerap serta mengembangkan pengetahuan dan keahlian dalam sebuah lingkungan yang telah dibentuk khusus bagi dirinya.
tambahannya menurut saya, kriterianya itu adalah dimana pada e-learning tersebut kita dapat melakukan kegiatan belajar mengajar didalamnya sama seperti kegiatan belajar mengajar yang tatap muka, misalnya ada pengabsenan dan guru memberi materi, tugas,quiz,serta guru dapat mengevaluasi hasil belajar siswa
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusdengan banyak kekurangan dari e-learning ini, apakah menurut anda e-learning masih efektif dan efisien untuk digunakan??
BalasHapusmenurut saya masih efektif jika kita melihat suatau kedaan dimana ruangan kelas yang terbatas dan jumlah siswa melebihi dari standar maka pembelajaran e-learning ini sangat efektif
HapusApa faktor penting dalam keefektifan pada penerapan e-learning?
BalasHapusjika tersedianya komponen-komponen yang dibutuhkan, seperti pengabsesan, pemberian materi dan tugas, quiz, serta evaluasi hasil belajjar
Hapusmenurut anda apakah dengan pembelajaran e-learning siswa dapat lebih mudah belajar dan materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik?
BalasHapusmenurut saya iya.. namun tidak pada semua materi pelajaran
Hapusbagaimana elearning yang baik itu?
BalasHapusManfaat pembelajaran elektronik menurut Bates (1995) dan Wulf (1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:
Hapus(1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).
(2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
(3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
(4) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
Dengan demikian diharapkan penerapan e-learning dapat memberikan manfaat antara lain :
– Adanya peningkatan interaksi siswa dengan sesamanya dan dengan guru
– Tersedianya sumber-sumber pembelajaran yang tidak terbatas
– E-learning yang dikembangkan secara benar akan efektif dalam meningkatkan kualitas lulusan dan kualitas sekolah
– Terbentuknya komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerima serta tidak terbatas dalam satu lokasi
– Meningkatkan kualitas guru karena dimungkinkan menggali informasi secara lebih luas dan bahkan tidak terbatas
Secara konsep, guru e-learning harus mempunyai kemampuan pemahaman pada materi yang disampaikannya, memahami strategi e-learning yang efektif, bertanggung jawab pada materi pelajaran, persiapan pelajaran, pembuatan modul pelajaran, penyeleksian bahan penunjang, penyampaian materi pelajaran yang efektif, penentuan interaksi mahasiswa, penyeleksian dan pengevaluasian tugas secara elektronik. Studio pengajar perlu dikelola lebih baik dari pada ruangan kelas biasa. guru harus dapat menggunakan peralatan, antara lain menggunakan audio, video materials, dan jaringan komputer selama pembelajaran berlangsung.
saya ingin menjawab pertanyaan listya :
BalasHapusmenurut saya akses internet karena jika akses internet tidak memadai maka e-learning ini tidak akan efektif digunakan.
terimakasih atas jawaban anda
Hapusjelaskan Apa saja komponen elearning yang harus terpenuhi?
BalasHapusyang terpenting adalah pengabsesan, pemberian materi dan tugas, quiz, serta evaluasi hasil belajar
Hapustambahannya ...
HapusKomponen yang membentuk e-learning (Romisatriawahono, 2008) adalah:
a. Infrastruktur e-learning
Infrastruktur e-learning merupakan peralatan yang digunakan dalam e-learning yang dapat berupa Personal Computer ((PC), yakni komputer yang dimiliki secara pribadi (Febrian, 2004)), jaringan komputer (yakni, kumpulan dari sejumlah perangkat berupa komputer, hub, switch, router, atau perangkat jaringan lainnya yang terhubung dengan menggunakan media komunikasi tertentu (Wagito, 2005)), internet (merupakan singkatan dari Interconnection Networking yang diartikan sebagai komputer-komputer yang terhubung di seluruh dunia (Febrian, 2004)) dan perlengkapan multimedia (alat-alat media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi (Febrian, 2004)). Termasuk di dalamnya peralatan teleconference (pertemuan jarak jauh antara beberapa orang yang fisiknya berada pada lokasi yang berbeda secara geografis (Febrian, 2004)) apabila kita memberikan layanan synchronous learning yakni proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid sedang belajar melalui teleconference.
b. Sistem dan aplikasi e-learning
Sistem dan aplikasi e-learning yang sering disebut dengan Learning Management System (LMS), yang merupakan sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional untuk administrasi, dokumentasi, laporan suatu program pelatihan, ruangan kelas dan peristiwa online, program e-learning, dan konten pelatihan (Ellis, 2009)), misalnya, segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar seperti bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), serta sistem ujian online yang semuanya terakses dengan internet.
c. Konten e-learning
Konten e-learning merupakan konten dan bahan ajar yang ada pada e-learning sistem (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk misalnya Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif seperti multimedia pembelajaran yang memungkinkan kita menggunakan mouse, keyboard untuk mengoperasikannya) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran yang ada di wikipedia.org, ilmukomputer.com, dsb.). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh peserta didik kapan pun dan dimana pun.
Sedangkan ’aktor’ yang ada dalam pelaksanakan e-learning boleh dikatakan sama dengan proses belajar mengajar konvensional, yaitu perlu adanya pengajar (dosen) yang membimbing siswa (mahasiswa) yang menerima bahan ajar dan administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.
e-learning yang ada saat ini apakah sudah efektif menurut anda?
BalasHapussudah karena dapat melakukan kegiatan pembelajaran tanpa batas
Hapussalah satu bentuk kekurangan elearning yaitu: Cenderung mengurangi aspek social. bagaimanakah usaha yang dapat dilakukan oleh guru untuk meminimalisir kekurangan tersebut?
BalasHapusdengan memperbanyak diskusi didalamnya, karena aspek sosial menurut saya bukan hanya berlangsung jika hanya tata muka saja, melalui media pun kita bisa bersosialisasi
Hapusjelaskan mengenai Feedback dalam e-learning
BalasHapusAdanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara sebagai syarat-syarat kegiatan pembelajaran elektronik (e-Learning) dan itu tergantug dari lembaga penyelenggara
HapusBeberapa kelemahan dari pembelajaran melaui e learning diantaranya :
BalasHapus1. Kurangnya pemahaman guru terhadap kualitas murid dan kepribadian mereka karena jarangnya bertatap muka secara langsung.
2. Siswa kurang mendapatkan motivasi untuk belajar karena instruktur (Guru) tidak mengetahui secara persis apa permintaan, ketertarikan dan motivasi siswa.
3. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).
4. Proses pembelajaran lebih cenderung ke arah pengajaran saja (transfer knowledge) daripada pendidikan.
5. Para guru juga dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication and Technology), selain penguasaan teknik pembelajaran konvensional tentunya.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut maka guru juga harus mengadakan pembelajaran tatap muka.karena pembelajaran e- learning ini bukan berarti tidak ada tatap muka Disitulah peran seorang guru dimainkan yang mana guru memberikan motivasi kepada siswa menanamkan pendidikan karakter kepada siswa dan dengan adanya pertemuan maka guru juga bisa memantau tingkah laku siswa itu sendiri. Dan untuk fasilitas mungkin cukup sulit diatasi karena faktor ekonomi yang berbeda akan tetapi pembelajaran e learning di tingkat siswa ini biasanya diadakan jika memang fasilitasnya cukup. Saat ini bagi siswa yang tidak mempunyai fasilitas internet dirumah mungkin bisa dengan ke warnet. Lalu untuk mengatasi kekurangan yang terakhir guru bisa memanfaat teknologi internet yang sudah canggih. Dari situ ataupun dari buku guru bisa mendapatkan informasi sehingga dapat lebih menguasai teknik pembelajaran e- learning ini
Adanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara. mohon dijelaskan maksudnya!
BalasHapusAdanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara sebagai syarat-syarat kegiatan pembelajaran elektronik (e-Learning) dan itu tergantug dari lembaga penyelenggara
Hapussedikit menambahkan,
BalasHapusMedia pembelajaran berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media pembelajaran ini adalah(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan prestasiakademik siswa, (b) menambah kenyamanan, (c) menarik lebih banyak perhatian siswa kepada materi yang disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat diterapkan dengan berbagai tingkat dan model pembelajaran, dan (e) dapat menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya (Kim, 2007:5; Kose, 2010:2796).Media pembelajaran berbasis LMS sangat berguna dalam menyediakan lingkungan/suasana belajar yang lengkap bagi siswa, karena penuh dengan penyediaan dokumen yang terkait modul dalam format elektronik, kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan kesempatan untuk menyerahkan semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan lain yang mendukung perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki akses ke semua konten pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang paling cocok untuk kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan kemampuan kecepatan belajar masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan belajar yang interaktif (Alberst et al, 2007:55-56; Kose, 2010:2796).
terimaksih atas tambahannya
Hapussedikit menambahkan Kebijakan institusi pendidikan dalam memanfaatkan teknologi internet menuju e-learning perlu kajian dan rancangan mendalam. E-learning bukan semata-mata hanya memindahkan semua pembelajaran pada internet. Hakikat e-learning adalah proses pembelajaran yang dituangkan melalui teknologi internet. Di samping itu prinsip sederhana, personal, dan cepat perlu dipertimbangkan. Untuk menambah daya tarik dapat pula menggunakan teori games Oleh karena itu prinsip dan komunikasi pembelajaran perlu didesain seperti layaknya pembelajaran konvensional. Di sini perlunya pengembangan model e-learning yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa media pembelajaran secanggih apapun tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya peran guru. Penanaman nila-nilai dan sentuhan kepribadian sulit dilakukan. Di sini tantangan bagi para pengambil kebijakan dan perancang e-learning. Oleh karena itu penulis sependapat bahwa dalam sistem pendidikan konvensional, fungsi elearning adalah untuk memperkaya wawasan dan pemahaman peserta didik, serta proses pembiasaan agar melek sumber belajar khususnya teknologi internet.Menurut pendapat saya pembelajaran e-learning tidak menghubungkan ranah afektif dengan psikomotorik.. namun nanti akhirnya akan mendapatkan hasil yang masing2.. saat kita mengevaluasinya, maka akan terlihat perkembangannya sesuai dengan pendekatan yang kita lakukan.
BalasHapusterimakasih atas tambahannya
HapusPrinsip pembelajaran berbasis web, yaitu :
BalasHapus1. Web Course
proses aktivitas pembelajaran yang terjadi tanpa tatap muka secara langsung antara pengajar dan peserta didik.web course ini ada 2 macam :
a. synchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.
b.Asynchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang tentukan dan ditempat yang berbeda. Misalnya pengajar bertanya dengan peserta didik, lalu si peserta didik tidak harus menjawab pada saat itu juga akan tetapi bisa di lain waktu.
2. Web Centric Course
Aktivitas pembelajaran yang 50% nya mencakup synchronize dan asynchronize dan 50% nya lagi melakukan aktivitas pembelajaran dengan berinteraksi secara langsung.
3. Web Enhanced Course
Kegiatan tatap muka biasa secara langsung dan dihadiri juga sumber lain misalnya dengan menampilkan video ataupun dengan mengakses sumber lain dari internet pada saat proses pembelajaran
Nelly Simbolon4 Juni 2017 03.37
BalasHapusterimakasih atas tambahannya